BYD Seagull Generasi Kedua Jadi RWD, Apa Perubahannya?
BYD Seagull Generasi Kedua hadir dengan sejumlah perubahan besar yang membuatnya berbeda dari model sebelumnya. Mobil listrik mungil yang dikenal sebagai BYD Atto 1 di Indonesia tersebut kini dikabarkan mendapatkan sistem penggerak roda belakang atau rear-wheel drive (RWD), motor listrik dengan tenaga lebih besar, suspensi belakang independen, hingga tambahan ruang penyimpanan di bagian depan.
Kemunculan model terbaru ini menjadi perhatian karena Seagull merupakan salah satu mobil listrik kompak BYD yang memiliki peran penting di pasar China. Jika nantinya diperkenalkan ke Indonesia, generasi terbaru tersebut berpotensi membawa perubahan cukup signifikan terhadap karakter Atto 1.
Namun, hingga saat ini belum ada informasi resmi bahwa model yang diperkenalkan di China tersebut akan langsung dipasarkan di Indonesia sebagai generasi terbaru Atto 1. Karena itu, berbagai informasi mengenai model ini masih perlu dilihat sebagai perkembangan pasar global BYD.
Baca Juga : Chery Q Jadi Hatchback Favorit GIIAS 2026, Ini Daya Tariknya
BYD Seagull Generasi Kedua Hadir dengan Konsep Berbeda
Salah satu perubahan terbesar terdapat pada sistem penggerak. Seagull generasi sebelumnya menggunakan motor listrik yang ditempatkan di bagian depan dan menggerakkan roda depan.
Pada model terbaru, BYD memindahkan motor listrik ke bagian belakang. Konfigurasi tersebut membuat Seagull generasi kedua menggunakan sistem RWD.
Motor dengan kode TZ164XYB tersebut dilaporkan menghasilkan tenaga hingga 95 kW, jauh lebih besar dibandingkan motor 55 kW pada generasi sebelumnya. Peningkatan tenaga tersebut juga diikuti dengan kenaikan kecepatan maksimum hingga 150 km/jam.
Perubahan ini menarik karena RWD tidak hanya berkaitan dengan penyaluran tenaga. Pemindahan motor ke belakang turut mengubah tata letak komponen kendaraan dan menciptakan ruang tambahan di bagian depan.
Tenaga Lebih Besar untuk Mobil Listrik Kompak
Peningkatan output motor menjadi salah satu pembaruan penting. Dengan tenaga 95 kW, generasi terbaru Seagull memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan model sebelumnya.
Peningkatan tersebut dapat menjadi nilai tambah bagi mobil listrik yang digunakan tidak hanya untuk perjalanan dalam kota, tetapi juga untuk perjalanan dengan kebutuhan performa yang lebih tinggi.
Meski demikian, performa aktual seperti akselerasi dan konsumsi energi tetap akan dipengaruhi oleh bobot kendaraan, kapasitas baterai, karakter motor, serta konfigurasi produksi akhirnya.
Ada Frunk Berkat Perubahan Tata Letak Motor
Pemindahan motor listrik ke bagian belakang menghasilkan keuntungan lain berupa ruang kosong di bawah kap depan.
Area tersebut dapat dimanfaatkan sebagai frunk atau front trunk. Berbeda dari bagasi utama di belakang, frunk memberikan ruang penyimpanan tambahan untuk membawa barang.
Fitur ini cukup menarik untuk kendaraan berukuran kompak karena pemanfaatan ruang menjadi salah satu aspek penting dalam desain mobil listrik.
Namun, kapasitas resmi frunk pada Seagull generasi kedua belum diumumkan. Artinya, calon konsumen masih perlu menunggu informasi resmi mengenai volume dan kemampuan penyimpanan ruang tersebut.
Mengapa Frunk Menarik pada Mobil Listrik?
Pada kendaraan listrik, tata letak komponen dapat berbeda dibandingkan mobil bermesin pembakaran internal. Tidak adanya mesin konvensional di bagian depan memungkinkan produsen merancang ruang tambahan pada area yang sebelumnya digunakan untuk komponen mekanis.
Dalam penggunaan sehari-hari, frunk dapat dimanfaatkan untuk menyimpan berbagai barang berukuran kecil hingga sedang. Kehadirannya juga membuat pemilik memiliki dua area penyimpanan yang dapat digunakan secara terpisah.
Suspensi Belakang Berubah Menjadi Multi-Link
Pembaruan lain yang tidak kalah menarik terdapat pada sistem suspensi. Seagull generasi sebelumnya menggunakan suspensi belakang torsion beam.
Pada generasi baru, sistem tersebut digantikan dengan suspensi independen multi-link. Perubahan ini menjadi salah satu pembaruan teknis yang cukup signifikan pada bagian kaki-kaki.
BYD juga menggunakan ban berukuran 205/60 R16 dengan pelek alloy 16 inci.
Penggunaan suspensi independen dan ban dengan ukuran lebih besar menunjukkan bahwa BYD melakukan pengembangan bukan hanya pada tenaga, tetapi juga pada komponen yang berkaitan dengan karakter berkendara.
Meski demikian, tingkat kenyamanan, stabilitas, dan pengendalian kendaraan tetap harus dibuktikan melalui pengujian langsung pada unit produksi.
Baca Juga : Promo Chery Q di GIIAS 2026, Mobil Listrik 400 Km
Dimensi Mobil Ikut Membesar
Seagull generasi terbaru juga mengalami perubahan pada ukuran bodi. Data yang beredar menunjukkan bahwa mobil ini memiliki panjang sekitar 4.205 mm, lebar 1.810 mm, tinggi 1.570 mm, dan jarak sumbu roda 2.650 mm.
Jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya, perubahan tersebut cukup besar.
| Bagian | Generasi Sebelumnya | Generasi Terbaru |
|---|---|---|
| Panjang | 3.780 mm | 4.205 mm |
| Lebar | 1.715 mm | 1.810 mm |
| Tinggi | 1.540 mm | 1.570 mm |
| Wheelbase | 2.500 mm | 2.650 mm |
| Tenaga motor | 55 kW | 95 kW |
| Kecepatan maksimum | 130 km/jam | 150 km/jam |
Pertambahan dimensi tersebut membuat karakter mobil menjadi lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya. Jarak sumbu roda yang lebih panjang juga berpotensi memberikan ruang kabin lebih luas.
Bagi mobil listrik perkotaan, perubahan dimensi seperti ini menarik karena memberikan kemungkinan peningkatan kenyamanan tanpa meninggalkan konsep kendaraan kompak.
Kabin Mendapat Sentuhan Baru
Perubahan juga terlihat pada interior. Seagull terbaru menggunakan setir multifungsi dua palang dengan desain flat-bottom. Bagian tengah dashboard mendapatkan layar sentuh dengan desain floating.
Area konsol tengah juga dibuat lebih fungsional dengan keberadaan tombol fisik model toggle, tempat pengisian daya nirkabel untuk smartphone, serta dua cupholder.
Konsep tersebut memberikan kesan kabin yang lebih modern sekaligus mempertahankan sejumlah kontrol fisik untuk fungsi tertentu.
Selain interior, bagian eksterior juga mendapatkan revisi. Gagang pintu yang sebelumnya menggunakan model pop-out digantikan dengan desain mekanis semi-tersembunyi.
Bagian belakang turut mendapatkan desain lampu yang berbeda, sementara spoiler atap dan diffuser bawah menjadi bagian dari tampilan baru.
Teknologi Bantuan Berkendara Semakin Canggih
Salah satu fitur yang menarik perhatian pada prototipe Seagull terbaru adalah keberadaan perangkat LiDAR di bagian atap.
Perangkat tersebut dikaitkan dengan teknologi bantuan berkendara BYD DiPilot 300 atau God’s Eye B. Kehadiran sensor tersebut memperlihatkan bahwa teknologi bantuan pengemudi tidak hanya diarahkan untuk kendaraan BYD di kelas atas.
Jika teknologi tersebut benar-benar tersedia pada versi produksi tertentu, Seagull generasi baru dapat menawarkan tingkat teknologi bantuan berkendara yang lebih tinggi dibandingkan pendahulunya.
Namun, konfigurasi fitur dapat berbeda berdasarkan varian dan pasar. Karena itu, spesifikasi final untuk pasar tertentu tetap harus menunggu pengumuman resmi BYD.
Bagaimana dengan Baterai dan Pengisian Daya?
Selain perubahan motor dan sasis, teknologi baterai juga menjadi salah satu hal yang menarik untuk diperhatikan.
Sejumlah laporan menyebut kemungkinan penggunaan Blade Battery generasi kedua serta teknologi Flash Charging pada varian tertentu. Akan tetapi, BYD belum mengumumkan secara resmi kapasitas baterai maupun durasi pengisian untuk teknologi tersebut pada model terbaru ini.
Informasi yang beredar dari data regulasi China juga menunjukkan adanya pilihan baterai dengan kapasitas sekitar 30 kWh dan 39,2 kWh.
Karena angka tersebut berkaitan dengan spesifikasi pasar China, konsumen Indonesia sebaiknya tidak langsung menganggap konfigurasi yang sama akan digunakan apabila model tersebut nantinya dipasarkan di Tanah Air.
Apakah Bisa Menjadi Generasi Berikutnya dari Atto 1?
Pertanyaan terbesar bagi pasar Indonesia adalah apakah Seagull generasi kedua akan menjadi penerus Atto 1.
Secara nama dan posisi produk, pertanyaan tersebut cukup relevan karena BYD Seagull dipasarkan sebagai Atto 1 di Indonesia. Namun, belum ada konfirmasi resmi mengenai rencana membawa generasi kedua tersebut ke pasar Indonesia.
Jika nantinya hadir, perubahan yang dibawanya cukup besar, mulai dari penggerak RWD, motor 95 kW, suspensi multi-link, dimensi lebih besar, frunk, hingga teknologi bantuan berkendara berbasis LiDAR.
Karena belum ada kepastian mengenai waktu peluncuran, harga, spesifikasi, maupun nama yang akan digunakan di Indonesia, calon konsumen perlu menunggu informasi resmi dari BYD sebelum mengambil kesimpulan.
Perubahan Besar untuk Mobil Listrik Berukuran Kompak
Kemunculan Seagull generasi kedua memperlihatkan bahwa pengembangan mobil listrik tidak hanya berfokus pada kapasitas baterai. Produsen juga mulai mengoptimalkan tata letak motor, ruang penyimpanan, suspensi, dimensi, desain kabin, hingga teknologi bantuan pengemudi.
Bagi konsumen, perkembangan tersebut memberikan gambaran bahwa mobil listrik berukuran kompak pun dapat menawarkan teknologi yang semakin lengkap.
Jika nantinya model ini hadir di Indonesia, perubahan yang dibawa dapat membuat karakter Atto 1 generasi berikutnya berbeda cukup jauh dibandingkan model saat ini.
Nantikan Berita EV Terbaru
BYD Seagull Generasi Kedua membawa perubahan menarik melalui sistem RWD, motor yang lebih bertenaga, suspensi multi-link, frunk, dimensi yang lebih besar, serta teknologi bantuan berkendara yang semakin berkembang. Meski belum ada kepastian mengenai kehadirannya di Indonesia, perkembangan model ini layak menjadi perhatian bagi pencinta kendaraan listrik.
Ingin info lain seputar EV? Nantikan berita lain dari AutoEV.id untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai perkembangan mobil listrik, teknologi kendaraan energi baru, serta berbagai kabar menarik dari industri otomotif.

